Minggu, 13 November 2011

Ngebolang ke: Gunung Api Purba "NGLANGGERAN"


Kalian tentu sudah pernah mendaki gunung bukan? Baguuus.. Pegunungan memang selalu memberikan sensasi damai dan kesejukan. Biasanya yg didaki adalah gunung yg sudah tidak aktif. ckck.. itu mah biasa. Kali ini sy akan bercerita ttg pengalaman sy mendaki gunung api purba Nglanggeran bersama teman-teman yg tergabung dlm tim Ekspedisi Payung Somplak. Kok namanya aneh? udaah ga usah dipikirin panjangxlebar, skrg simak pengalaman kami. Yuuuk..

Gunung api purba Nglanggeran yg terletak di desa Patuk, Gunungkidul ini sebenarnya menawarkan pemandangan yg eksotis jika pendakian dilakukan di malam hari. Konon katanya klo malam hari pemandangan langitnya akan dihiasi ribuan bintang yg berkilauan dan hebatnya anda akan merasa seolah2 sedang menikmati pemandangan hujan meteor persis kayak di planetarium. Tahu ga planetarium apaan? ga tau ya? NDESOOOO! haha. Klo anda berangkat dr kota Jogja, anda mungkin membutuhkan wktu -+30 menit untuk mencapai daerah gunung purba. Jaraknya tidak terlalu jauh dr kota Jogja begitu juga dari kota Wonosari. Jalannya pun juga sudah beraspal, jd anda ga perlu ragu untuk membawa mercy atw alphard anda k gunung ini. Gunung api purba Nglanggeran memiliki ketinggian -+700m di atas permukaan laut. ga terlalu tinggi sih, tp cukup aman untuk para pendaki pemula seperti saya.

OK let's start our jurney! Pendakian kami kali ini sebenernya hanya untuk mengisi waktu luang sehabis libur lebaran. yah itung2 diet lah, sebentar lagi kan wisuda. hha. Kami, tim Ekspedisi Payung Somplak memutuskan untuk berkumpul di rumah salah satu anggota tim, Herlin. Rumahnya terletak di desa Playen, tak jauh dr Wonosari. Pukul 07.40 kami sudah siap untuk berangkat. sbelum berangkat kami berpose dulu.

(dari kiri: Ridwan, Pak Widarta (herlin's dad), Herlin, saya, Nandia siibolang)


Pukul 9.30 kami tiba di kawasan pendakian gunung api purba.
Agak molor sih, dan ini semua gara2 kita nungguin salah satu personil yg telat, Risdian. hha. Oke, sebelum mendaki pastikan anda menitipkan kendaraan anda dulu di bawah biar aman. Klo mau boker/pipis mending sekalian di bawah aja, soalnya di atas gunung nanti jgn harap km bakalan nemuin toilet umum atw WC darurat. nooooway!


Oh ya, di bawah juga ada beberapa kios yg menjual aneka makanan, like: soto, bakso, nasi goreng (*bacanya hrs dg gaya barrack obama y!). Ehm pilih2 makanan dulu sebelum mendaki, soalna klo ga bawa bekal dr bawah yg ada ntar km bakalan mati kelaperan dan namamu bakan diabadikan di sana. hohoho. Yup stlh membeli nasi rames akhirnya km bersiap mendaki. eiiit jangan kaget ya, nasi rames di sini harganya standar dan km ga bakalan kecewa karena klo km mendaki scr rombongan, maka si penjual makanan akan bersedia mengantarkan makanan itu ke puncak pd saat jam makan siang nanti. tp berhubung penjual nya ibuk2, kami pun kasihan dan memilih untuk membawanya sendiri.


Sebelum mendaki, mata kami dimanjakan oleh hamparan padi menghijau di kanan kiri.. rupanya di sini juga terdapat areal persawahan.

Klo ada sawah, harus ada sumber air dong?? that's right, ternyata di kawasan ini terdapat 28 sumber mata air yg masih terjaga kemurniannya. Tepat di samping Goa Jepang, terdapat sumber mata air yang tak pernah kering sepanjang masa. Warga meyakini sumber berupa rembesan air itu berasal dari telaga mistis yang dijuluki Telaga Wungu. Konon, hanya orang berhati bersihlah (seperti kami.. hhe) yang mampu melihat keberadaan telaga itu.

Kami disambut oleh Mas Sugeng, beliau adalah ketua perhimpunan Pemuda Nasional yg juga menjadi pelopor terciptanya desa wisata di bukit Nglanggeran ini. Keren sekali ya beliau ini.

(mas Sugeng yg pke baju biru laut, di samping kiri sy. bajunya bertuliskan 'update banget'. konon katany beliau ini sgt update di fb. pantes kan. hha)

Kami pun mulai menaiki anak tangga yg dibuat untuk membantu para pejalan kaki...


kami tiba di Song Gudel. Batuan besar yg berbentuk bola. Katanya sih tempat ini suka dijadikan tempat melakukan ritual khusus. Ckckck..

Nah, ini yg namanya Lorong sumpitan, panjangnya sekitar 20meter, tingginya -+5meter, dan lebarnya hanya sekitar 50cm. kebayang kan betapa sempitnya lorong itu. So bwt kamu2 yg punya ukuran body di atas rata2, sy sarankan untuk memilih jalur lain karena ada beberapa jalur alternatif. hha. Usut punya usut, dahulu tentara Belanda pernah bersembunyi di sini untuk menghindari serangan tentara jepang. Pantesan, di kanan-kiri tebing terdapat bekas2 telapak kaki yg sepertinya memang sengaja dibuat sbg pijakan.

Tak jarang kami harus mendaki dgn bantuan tali 'hesti', hmm lumayan menantang ya..

Saking capeknya, kami pun selalu menyempatkan diri untuk beristirahat di gardu pandang yg disediakan. Kami menunaikan shalat dzuhur juga loh. Mantap. Sebenernya dari kaki gunung sampai ke puncak bisa ditempuh dlm waktu 2jam, namun karena kami terlalu byk istirahat akhirnya kami memakan waktu -+ 2,5jam. Ga papa lah yg penting nyampe.

Taraaaaaaaaaaaaaang.. akhirnya kami pun sampai juga di salah satu puncak gunung api purba Nglanggeran. hmmm... udaranya sangat dingin meskipun tengah hari. Dan anginnya sepoi2 sekali. Semua letih dan lelah terbayarkan sudah. Kami senang bisa menakhlukkan puncak Nglanggeran ini. Dan memang benar, pemandangan di sini sungguh indah sekali. Dari atas terlihat pepohonan, bukit2, menara pemancar, bebatuan organik peninggalan purbakala yg sangat menawan. Sungguh Engkau Maha Kuasa Ya Allah, yg telah menciptakan bumi yg indah ini untuk kami jaga. Hmmm.. sekarang saatnya foto-foto. wkwkwk..



Sebelum kami turun, tak lengkap rasanya jika kami tidak mengibarkan kutang di puncak Nglanggeran ini. Yup, sudah menjadi tradisi bagi tim ekspedisi Payung Somplak untuk melakukan ritual 'kibar kutang' di manapun kami berpijak. hhe. Ini tandanya kami telah berhasil menakhlukkan puncak Nglanggeran. Pendakian yg sangat mengesankan. :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar