Tampilkan postingan dengan label NGEBOLANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NGEBOLANG. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Januari 2012

Ngebolang ke: Goa Pindul


Liburan natal kemarin aku dan 4orang teman (pepex, mitzu, jams, udin) berencana mengunjungi slah satu objek wisata minat khusus yang ada di daerah Gunungkidul. Namanya sudah tidak asing lagi, yaitu Goa Pindul. Coba saja search di google dengan memasukkan keyword 'GOA' , pasti hasilnya langsung muncul 'GOA PINDUL'! Hhe. Keren kan? Namanya saja objek wisata minat khusus, jadi tidak semua orang tertarik mengunjunginya. Hanya orang-orang yang bernyali besar seperti kami-lah yang berani datang ke sini. Sigh!

Goa Pindul merupakan wisata cave tubing yang baru dibuka pada awal tahun 2011. Goa ini memiliki panjang sekitar 300 m dan di bagian dalamnya terdiri atas 3 zona: zona terang, zona remang, dan zona gelap abadi. Sebenarnya kami penasaran dengan Goa yang satu ini karena belum pernah nyobain rafting atau cave tubing. Konon sudah banyak turis-turis asing yang datang ke sini. Bahkan beberapa bulan yang lalu, puteri sultan, Jeng Reny dan Mas Ubay pun pernah berkunjung ke sini selang beberapa hari setelah royal wedding.

Waktu itu kami cuma berencana menempuh perjalanan dengan menggunakan sepeda motor karena tempatnya memang tidak begitu jauh dari rumahku. Yah kira-kira 7 km lah klo dari kota Wonosari. Lokasi tepatnya ada di desa Gelaran, Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul. Jangan khawatir, akses ke objek wisata cukup mudah, jalan aspalannya bagus. Dari kota Jogja anda cukup menuju ke arah Wonosari. Sebelumnya anda akan menjumpai posko pemandu di perempatan desa Grogol, Bejiharjo. Nah di posko itu anda bisa bertanya-tanya tentang Goa Pindul. Jangan khawatir, all FREE!

Sebelum ke objek wisata Goa Pindul, kami singgah dulu di rumah salah satu personil: Mitzu. Pukul 11.00 kami berangkat dari rumah Mitzu menuju Goa Pindul. Dan sesampainya di sana kami terkejut melihat parkiran yang sudah penuh dengan mobil dan motor pengunjung. Busset dah, antrian pengunjung yang mendaftar sudah menjamur. Hurry up! Akhirnya kami mendaftarkan ke panitia. Untungnya masih ada kesempatan. Panitia pun menawarkan beberapa paket wisata sebagai berikut :

-PAKET A
Cave tubing Pindul, jasa pemandu, peralatan penelusuran, asuransi --> biaya Rp30.000,00
-PAKET B
Caving Glatik, jasa pemandu, peralatan penelusuran, asuransi --> Rp30.000,00
-PAKET C
Oyo River tubing (semacam arung jeram gitu lah), jasa pemandu, peralatan penelusuran, asuransi --> Rp50.000,00

Akhirnya kami memilih paket A karena tujuan utama kami memang ingin masuk ke dalam Goa Pindul. Beruntungnya kami mengajak Mitzu yang merupakan warga pribumi, jadi kami dapet potongan harga sebesar 10.000 per gundul. Lumayan kan. Hha. Oh ya, klo anda mau berkunjung ke sini ada baiknya anda melakukan booking dulu via CP Bapak subagya di nomor hp 081-227-923-007. Soalnya klo ga booking dulu, bisa-bisa nasib anda akan merana seperti kami yang harus menunggu giliran selama -+2jam, dan itu sangat annoying sekali. :(

Sambil menunggu giliran, ada beberapa alternatif yang bisa anda lakukan. Anda bisa mencoba jajanan kuliner di sekitar situ. Anda bisa ke masjid, yah sekdar mendekatkan diri kepada Allah agar diberi keselamatan. Hhe. Atau anda juga bisa rileks sejenak di kolam terapi ikan. Itu tuh yang kayak di emol-emol di jakarta, yang kakinya dicelupin ke kolam trs ntar si ikan bakal 'nothol'-in koreng kita mpe bersih. Hha. Lagi-lagi fasilitas ini FREE! Atau bagi anda yang hobby baca seperti saya, bisa juga minta selebaran untuk dibaca-baca, lumayan untuk menambah wawasan. Nih salah satu informasi yang saya dapatkan, ternyata di kompleks objek wisata ini terdapat spot-spot menarik, yaitu:

MONUMEN JENDERAL SUDIRMAN
Monumen ini menjadi penanda bersejarah peristiwa pengeboman Belanda atas desa Bejiharjo. Pengeboman tersebut dilakukan karena desa Bejiharjo merupakan salah satu rute gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman.

SITUS PURBAKALA SOKOLIMAN
Awal mula dan perkembangan peradaban senantiasa tidak jauh dari sungai dan air. Menurut cerita orang tua, nama Sokoliman berasal dari: SOKA - LIMA. Wujud fisik situs ini hanya merupakan kumpulan batu yang tertata rapi dan diberi kode identifikasi. Hasil riset menunjukkan bahwa situs megalithikum ini teridentifikasi sebagai kompleks kubur peti batu (klo ga salah di pelajaran sejarah jaman SMP dulu disebut sarkofagus. CMIIW :)).

CAVETUBING PINDUL
Goa Pindul dilewati aliran sungai bawah tanah yang berasal dari sumber mata air. So jangan khawatir, meskipun musim hujan, objek wisata ini tetap aman dan enggak bakalan banjir, paling airnya cuma sedikit keruh. Untuk menjelajah goa, wisatawan harus berenang menggunakan pelampung dan ban karet. Jangan khawatir tenggelam bagi yang ga bisa berenang. Aktivitas cave tubing jarang ditemui di objek wisata seluruh dunia karena hanya daerah memiliki kawasan karst yang bisa melakukan aktivitas ini. ;)

OYO RIVER TUBING
Rute yang dilalui cukup panjang yang berjarak kurang lebih 5km dengan pemandangan alam yakni tebing-tebing sungai Oyo. Di tengah perjalanan, wisatawan disuguhi berbagai macam atraksi, yakni melompat dari ketinggian 15m. Penelusuran sungai Oyo menggunakan jaket pelampung dan ban. Sekali lagi, jangan khawatir tenggelam bagi yang ga bisa berenang.

TRACKING
Rute tracking sepanjang 7km ini melewati berbagai rintangan seperti jalan setapak, hutan kayu putih, dan sungai Oyo. Pemandangan alam yang masih alami menghiasi rute tracking desa wisata Bejiharjo.

CAVING GLATIK
Rintangan di Goa Gelatik sangat berat. Anda harus merangkak sejauh 15m dan juga kandungan oksigennya sangat minim. Puluhan ribu kelelawar menunggu kita di dalam Goa. Jangan takut, kelelawar ini tidak menghisap darah seperti di film Dracula kok, karena mereka adalah pemakan buah-buahan. Yah semacam keluarga Edward Cullen yang sudah berubah menjadi vegetarian. hha

Setelah menunggu lama, akhirnya tibalah giliran kami untuk masuk ke goa Pindul. Kami pun memakai perlengkapan perang: sepatu karet, rompi pelampung, dan membawa ban karet besar. Kami bersama pemandu berjalan dari tempat tunggu ke goa yang kurang lebih jaraknya 300 meter ditempuh dengan berjalan kaki. Sesampainya di sana, kami langsung rebahan di atas ban karet. Pemandu menyarankan kami untuk saling bergandengan tangan agar tidak terpisah. Pemandu akan menarik dari depan, sambil menjelaskan all about goa pindul.
Oh ya, jangan lupa untuk menitipkan kamera ke pemandunya agar semua momen bisa ter-capture. Saya sarankan anda untuk membawa kamera saku aja, jangan DSLR karena kurang praktis klo dibawa ke dalam Goa. Belum lagi klo nanti terjatuh ke air, bisa gawat! Yang jelas anda harus tetap waspada dan nurut ama pemandu. Jangan sekali-kali melepaskan pelampung anda karena kedalaman air di goa pindul ini bervariasi, mulai dari 2 meter, 8 meter, bahkan ada yang 15 meter. Hhi.

Ada 3 pantangan yang harus diperhatikan selama anda berada di dalam goa:
1. Dilarang mengambil dan meninggalkan apa pun di dalam goa.
2. Dilarang berkata jorok.
3. Dilarang menjerit atau berteriak, dalam keadaan apa pun.

Kami pun sampai di zona terang, di sini kami masih bisa melihat keadaan bebatuan di sekitar goa yang subhanallah indah sekali. Ada stalagnit yang masih aktif juga. Terus kami menjumpai gundukan batu besar berwarna putih, katanya itu simbol kejantanan, nah buat para pria klo mau perkasa disarankan untuk memeluk batu itu. Tapi sayangnya saya belum bisa memeluknya. Hha. Ga papa, namanya juga mitos, boleh percaya boleh tidak.
Dan ada juga stalagnit yang bentuknya runcing-runcing, dari situ menetes air yang bisa diminum. Konon klo para wanita yang meminum air itu bisa bertambah tingkat kecantikannya. Hha. Ada-ada saja ya. Tapi entah kenapa kok saya jadi ikut2an melintas di bawah stalagnit itu, seraya mengharapkan ada tetesan air. Hha. Bagaimanapun juga kecantikan yang sejati itu ada di hati, bukan di wajah atau di pantat.

Zona berikutnya adalah zona remang-remang. Paling asik nih di sini kita bisa senggol-senggolan kayak di warung remang-remang. Ehh..! Di sini anda mulai butuh alat bantu penerangan, pemandu pun akan mulai menyalakan senternya. Nah klo anda ihat di bagian langit gua, akan ada sebuah cerobong berbentuk persegi yang di atasnya ada semacam bangunan dari kayu.
Ternyata bangunan itu adalah bekas sarang burung walet, tapi sekarang waletnya udah pergi. Dan di sekitar situ juga ada kawanan kelelawar lho. Tapi sekali lagi, jangan takut, kelelawarnya hanya memakan serangga kecil kok.

Keluar dari zona remang, anda akan memasuki zona gelap abadi. Namanya aja gelap, ya udah jelas anda ga bakalan bisa ngeliat klo ga pake senter. Di sini pemandu akan mematikan senter untuk beberapa saat. Keadaan pun akan menjadi gelap gulita. Nah sekarang saatnya merenung dan berdoa, seraya bersyukur karena kita masih diberikan indera pengelihatan oleh Allah swt. Betapa gelapnya dunia ini jika mata kita tidak bisa melihat. Betul betul betul..

Selepas dari zona gelap, kami kembali tiba di zona terang dimana mulut gua udah terlihat dari sini. Waw pemandangan bebatuannya indah sekali. Kami pun bergegas untuk berfoto ria. Di sini anda juga bisa berenang, bermain air, atau meloncat dari ketinggian. Sayangnya pas nyampe di sini, baterai kamera kami udah abis. Jadi kami ga bisa foto2 narsis, dan kami pun hanya numpang foto dengan ponselnya mbak-mbak rombongan stikes a.yani. Sedih sekali ya. TT.

Keluar dari goa, rasanya masih kurang puas. Ehmmm pengen nyobain paket yang lain, tapi hari sudah sore. Mungkin lain kali, kami akan datang kembali ke goa pindul. Cave tubing selama kurang lebih 30 menit ini merupakan pengalaman pertama saya dan juga 4 orang teman saya. Amazing, ternyata daerah Gunungkidul memiliki potensi wisata yang luar biasa indahnya. Kalau pemerintah daerah mampu mengelolanya lebih baik, saya yakin ini akan menjadi daya tarik tersendiri, bukan hanya bagi wisatawan domestik, namun juga wisatawan asing. So, buat agan dan sista yang mau menikmati cavetubing di sungai bawah tanah, ga perlu jauh2 ke Phuket atau ke Zimbabwe, bergegaslah datang ke Goa Pindul. Dan bagi anda yang membutuhkan akomodasi, jangan khawatir karena di sini juga sudah ada homestay dengan biaya yang amat sangat terjangkau, mulai 25ribu per gundul per malam. Tunggu apa lagi?

Minggu, 25 Desember 2011

Traveling to Ujung Genteng Sukabumi

In 2011, I and my classmate traveled to the Ujung Genteng, a south coastal region of Sukabumi, with various tourist spots scattered in the area. We departed from Jakarta in the evening. Ujung genteng is located approximately 200 kilometers from Jakarta, takes about seven hours of travel to reach Ujung Genteng. According the plan we will be there for 2 days, 1 night.

As an amateur budget, we headed Ujung Genteng with a budget of about IDR 220k per person as well as some print-outs on the internet and expertise of Google result. Before leaving for Ujung Genteng we search information about the exact location of Ujung Genteng to determine the mode and route of transportation.
The first day, Wetnesday at 08.30 pm. Our meeting point was at the Indonesian State College of Accountancy (STAN), Bintaro. From there we started the trip by bus with the route from Jakarta to Bogor and finally to Sukabumi. We arrived Sukabumi at 01.00 am with the weather conditions was so cold, then continue our journey from Sukabumi to Ujung Genteng.

Thursday morning, at 04.00 am we arrived in Ujung Genteng. Our first impression was that although the coast, the wind was so cool, we didn’t know why. Some inns are on average has a name with a prefix of the word “pondok” (cottage) we could go to compare prices. Finally we got a lodging at a price of IDR 400k in “Pondok Adi”. We also visited another bungalow named ”Pondok Ujang”. This mini bungalow has facilities 2 bedrooms include the air-conditioning, 1 bathroom, small kitchen, and living room plus patio. We suggested to stay at “Pondok Adi”, although there was no air-conditioning, but it is clean and comfortable condition with new bathroom and amazing view.

Ujung Genteng Beach
Thursday morning, we had some breakfast before going to play in the beach. After that, we went to the beach together. We walked through the very wide white sands, looked for the most attractive spot. Ujung Genteng is very beautiful beach I had ever seen before. The water was so pure and clean. There was so many corals and sea animals. We began to take a photoshot one by one with many various poses. Absolutely, we are very “narsis”, but we like to do this. Because of the small wave, we decided to swim in the beach. We took abuot one hour for swimming. The sun was rising high and high. The weather was so hot. Finally we come back to the cottage for taking a rest and having a lunch.

Turtles Conservation in Pangumbahan beach
From “Pondok Adi” we headed to Pangumbahan beach by bus through a small streets. Because of the small street, the bus can’t entered the location. So we must go to the Pangumbahan beach on foot. About 50 minutes later we arrived at the place of turtles breeding. We saw and touch some young turtles which will be released to the sea. It was my first experience to release young turtles with other tourists. After that, we waited for sunset time in Pangumbahan beach because the official guide of the conservation said that there was so beautiful sunset at the Pangumbahan beach.
The officials there also had told me that to see the mother turtles laying eggs takes patience because of the schedule turtle laying eggs, usually at 20.00 pm until 04.00 am. What a pity, we must came back to the cottage before the mother turtles move to the beach for laying. Next, We returned to the cottage, cleaned up, and then took a rest to see the sunrise the next morning.
On Friday morning at 05.00 am, after prayer, and without a shower we went straight away to find the sunrise. Because we did not know where to go, we became the way to the sun without knowing the purpose. After playing in the beach, we returned to the cottage and prepared for leaving Ujung genteng. We put the goods, change casual clothes and then immediately left for Cikaso waterfall.

Cikaso Waterfall
The hidden waterfalls in the area that must pass through the river valley is located 16 km from Ujung Genteng. Once in the Post Tour Cikaso waterfall, we rented a boat at a price of IDR 80,000. This boat with a capacity of 10 people, so it was very cheap when divided by 10 people. From the end of the river down to the Cikaso waterfall only took about 5 minutes.
During the journey, our eyes are pampered by a breathtaking natural scenery. Especially after seeing the Cikaso waterfall . The water is very clean and we can play water here. If you want to pass the river stones, you must be careful because of slippery.
About 30 minutes of play there, we immediately went to go home. From Cikaso, we drove towards the Bogor. We decided to take a rest a while in the certain rest area. After having some 'ISHOMA', we immediately prepared to continue our road from Bogor to Bintaro. At 01.00 am, we finally arrived in Bintaro. Although we were very tired, but we really happy because it was an amazing holiday.

Minggu, 13 November 2011

Ngebolang ke: Gunung Api Purba "NGLANGGERAN"


Kalian tentu sudah pernah mendaki gunung bukan? Baguuus.. Pegunungan memang selalu memberikan sensasi damai dan kesejukan. Biasanya yg didaki adalah gunung yg sudah tidak aktif. ckck.. itu mah biasa. Kali ini sy akan bercerita ttg pengalaman sy mendaki gunung api purba Nglanggeran bersama teman-teman yg tergabung dlm tim Ekspedisi Payung Somplak. Kok namanya aneh? udaah ga usah dipikirin panjangxlebar, skrg simak pengalaman kami. Yuuuk..

Gunung api purba Nglanggeran yg terletak di desa Patuk, Gunungkidul ini sebenarnya menawarkan pemandangan yg eksotis jika pendakian dilakukan di malam hari. Konon katanya klo malam hari pemandangan langitnya akan dihiasi ribuan bintang yg berkilauan dan hebatnya anda akan merasa seolah2 sedang menikmati pemandangan hujan meteor persis kayak di planetarium. Tahu ga planetarium apaan? ga tau ya? NDESOOOO! haha. Klo anda berangkat dr kota Jogja, anda mungkin membutuhkan wktu -+30 menit untuk mencapai daerah gunung purba. Jaraknya tidak terlalu jauh dr kota Jogja begitu juga dari kota Wonosari. Jalannya pun juga sudah beraspal, jd anda ga perlu ragu untuk membawa mercy atw alphard anda k gunung ini. Gunung api purba Nglanggeran memiliki ketinggian -+700m di atas permukaan laut. ga terlalu tinggi sih, tp cukup aman untuk para pendaki pemula seperti saya.

OK let's start our jurney! Pendakian kami kali ini sebenernya hanya untuk mengisi waktu luang sehabis libur lebaran. yah itung2 diet lah, sebentar lagi kan wisuda. hha. Kami, tim Ekspedisi Payung Somplak memutuskan untuk berkumpul di rumah salah satu anggota tim, Herlin. Rumahnya terletak di desa Playen, tak jauh dr Wonosari. Pukul 07.40 kami sudah siap untuk berangkat. sbelum berangkat kami berpose dulu.

(dari kiri: Ridwan, Pak Widarta (herlin's dad), Herlin, saya, Nandia siibolang)


Pukul 9.30 kami tiba di kawasan pendakian gunung api purba.
Agak molor sih, dan ini semua gara2 kita nungguin salah satu personil yg telat, Risdian. hha. Oke, sebelum mendaki pastikan anda menitipkan kendaraan anda dulu di bawah biar aman. Klo mau boker/pipis mending sekalian di bawah aja, soalnya di atas gunung nanti jgn harap km bakalan nemuin toilet umum atw WC darurat. nooooway!


Oh ya, di bawah juga ada beberapa kios yg menjual aneka makanan, like: soto, bakso, nasi goreng (*bacanya hrs dg gaya barrack obama y!). Ehm pilih2 makanan dulu sebelum mendaki, soalna klo ga bawa bekal dr bawah yg ada ntar km bakalan mati kelaperan dan namamu bakan diabadikan di sana. hohoho. Yup stlh membeli nasi rames akhirnya km bersiap mendaki. eiiit jangan kaget ya, nasi rames di sini harganya standar dan km ga bakalan kecewa karena klo km mendaki scr rombongan, maka si penjual makanan akan bersedia mengantarkan makanan itu ke puncak pd saat jam makan siang nanti. tp berhubung penjual nya ibuk2, kami pun kasihan dan memilih untuk membawanya sendiri.


Sebelum mendaki, mata kami dimanjakan oleh hamparan padi menghijau di kanan kiri.. rupanya di sini juga terdapat areal persawahan.

Klo ada sawah, harus ada sumber air dong?? that's right, ternyata di kawasan ini terdapat 28 sumber mata air yg masih terjaga kemurniannya. Tepat di samping Goa Jepang, terdapat sumber mata air yang tak pernah kering sepanjang masa. Warga meyakini sumber berupa rembesan air itu berasal dari telaga mistis yang dijuluki Telaga Wungu. Konon, hanya orang berhati bersihlah (seperti kami.. hhe) yang mampu melihat keberadaan telaga itu.

Kami disambut oleh Mas Sugeng, beliau adalah ketua perhimpunan Pemuda Nasional yg juga menjadi pelopor terciptanya desa wisata di bukit Nglanggeran ini. Keren sekali ya beliau ini.

(mas Sugeng yg pke baju biru laut, di samping kiri sy. bajunya bertuliskan 'update banget'. konon katany beliau ini sgt update di fb. pantes kan. hha)

Kami pun mulai menaiki anak tangga yg dibuat untuk membantu para pejalan kaki...


kami tiba di Song Gudel. Batuan besar yg berbentuk bola. Katanya sih tempat ini suka dijadikan tempat melakukan ritual khusus. Ckckck..

Nah, ini yg namanya Lorong sumpitan, panjangnya sekitar 20meter, tingginya -+5meter, dan lebarnya hanya sekitar 50cm. kebayang kan betapa sempitnya lorong itu. So bwt kamu2 yg punya ukuran body di atas rata2, sy sarankan untuk memilih jalur lain karena ada beberapa jalur alternatif. hha. Usut punya usut, dahulu tentara Belanda pernah bersembunyi di sini untuk menghindari serangan tentara jepang. Pantesan, di kanan-kiri tebing terdapat bekas2 telapak kaki yg sepertinya memang sengaja dibuat sbg pijakan.

Tak jarang kami harus mendaki dgn bantuan tali 'hesti', hmm lumayan menantang ya..

Saking capeknya, kami pun selalu menyempatkan diri untuk beristirahat di gardu pandang yg disediakan. Kami menunaikan shalat dzuhur juga loh. Mantap. Sebenernya dari kaki gunung sampai ke puncak bisa ditempuh dlm waktu 2jam, namun karena kami terlalu byk istirahat akhirnya kami memakan waktu -+ 2,5jam. Ga papa lah yg penting nyampe.

Taraaaaaaaaaaaaaang.. akhirnya kami pun sampai juga di salah satu puncak gunung api purba Nglanggeran. hmmm... udaranya sangat dingin meskipun tengah hari. Dan anginnya sepoi2 sekali. Semua letih dan lelah terbayarkan sudah. Kami senang bisa menakhlukkan puncak Nglanggeran ini. Dan memang benar, pemandangan di sini sungguh indah sekali. Dari atas terlihat pepohonan, bukit2, menara pemancar, bebatuan organik peninggalan purbakala yg sangat menawan. Sungguh Engkau Maha Kuasa Ya Allah, yg telah menciptakan bumi yg indah ini untuk kami jaga. Hmmm.. sekarang saatnya foto-foto. wkwkwk..



Sebelum kami turun, tak lengkap rasanya jika kami tidak mengibarkan kutang di puncak Nglanggeran ini. Yup, sudah menjadi tradisi bagi tim ekspedisi Payung Somplak untuk melakukan ritual 'kibar kutang' di manapun kami berpijak. hhe. Ini tandanya kami telah berhasil menakhlukkan puncak Nglanggeran. Pendakian yg sangat mengesankan. :)

Kamis, 10 November 2011

Ngebolang ke "Srigethuk" waterfall

Di tengah keringnya daerah batuan karst di Gunungkidul ada sebuah sumber mata air melimpah berupa air terjun kecil (curug). Adalah Sri Gethuk, sumber mata air setinggi sekitar 50 meter yang terletak di Dusun Menggoran, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Gunungkidul, atau sekitar 40 km dari Yogyakarta. Air terjun yang oleh masyarakat setempat disebut dengan 'Slempret' itu berada tepat di tepi aliran Sungai Oyo.


Untuk sampai ke air terjun Sri Gethuk, pengujung bisa mencapainya dari jalan utama Jogja - Wonosari dengan jarak sekitar 10 km, yang dihiasi dengan jalanan batu putih bukan aspal sepanjang sekitar 3 km yang hanya bisa dilalui oleh maksimal satu kendaraan.

Lokasinya yang cukup ekstrim membuatnya tak ada layanan angkutan umum yang beroperasi di daerah tersebut. Jalan satu-satunya adalah hanya dengan menggunakan kendaraan pribadi atau bus yang tak tak terlalu besar.

Sebelum mencapai air terjun Sri Gethuk, pengunjung disarankan untuk menempuh rute lengkap dari yang pertama yaitu Goa Rancang Kencana. Dari goa ini, pengunjung bisa berjalan menuju air terjun atau bisa diantarkan dengan fasilitas kendaraan pick up atau bak oleh pengelola tempat wisata hingga di tepi Sungai Oyo.

Sepanjang rute menuju 'Slempret', pengunjung akan dibawa melintasi jalanan berbatu terjal dengan tikungan yang cukup menguji adrenalin. Dalam waktu sekitar 15 menit dengan menggunakan kendaraan pick up, pengunjung akan sampai di sebuah tempat singgah yang menyediakan makanan dan minuman serta sebuah kolam tempat memancing ikan.

Dari tempat tersebut, pengunjung baru bisa mencapai air terjun Sri Gethuk dengan menuruni rute persawahan yang terjal, kemudian melanjutkan dengan perjalanan dari tepi sungai Oyo menuju air terjun yang berjarak tak lebih dari sepuluh menit dengan menggunakan perahu karet atau dengan menggunakan perahu gethek.

Sesampainya di air terjun, pengunjung akan dibuat terbelalak dengan panorama yang mungkin tak mungkin dibayangkan oleh orang yang berkunjung ke Gunungkidul.



"wow pemandangannya so sweet bangeeet," ujar temanku Nandia siibolang, seorang pengunjung yang terus mendongakkan kepalanya ke arah air terjun lalu sesekali memutar kepalanya ke arah tebing dan sungai di seberang air terjun.

Memang, meski tak menawarkan pemandangan beragam seperti tempat wisata air terjun pada umumnya, air terjun Sri Gethuk mampu memberikan pesona lain yang pastinya belum pernah dialami oleh pengunjung yang datang ke sana.

Seperti tempat-tempat wisata pada umumnya, air terjun Sri Gethuk atau Slempret juga menyimpan kisah mistis hingga masyarakat setempat menyebutnya slempret, yang berasal dari kata slompret.

Konon, keberadaan air terjun Sri Gethuk merupakan lokasi pasar jin. Di malam-malam tertentu, masyarakat sering mendengar bunyi-bunyian seperti slompret dari arah air terjun itu. Tapi jika suara itu didekati, suara tersebut akan menghilang. Makanya masyarakat menyebutnya air terjun Slompret.

Warga percaya, gamelan itu dibunyikan oleh para jin yang suka kesenian dan milik dari Angga Mandura, nama dari raja jin Slempret. Tujuh Gua Tak jauh dari lokasi air terjun Sri Gethuk, terdapat setidaknya tujuh gua. Masing-masing gua Rancang Kencana, Ngledok, Dlingsem, Dilem, Song Ngoya, Tunting dan Jati Udeng.

Sedangkan untuk nama Sri Gethuk diambil dari nama instrumen gamelan yang dipergunakan Jin Angga Mandura yakni Kethuk. Untuk itu, hingga kini tempat yang diyakini sebagai lokasi menyimpan gamelan kethuk itu disebut dengan Sri Gethuk.

Yang pasti klo udah kecipratan air terjun sri gethuk niscahya km bakalan memperoleh sensasi awet muda. hha. nih buktinya: